Guru Chat Box

Sunday, 20 December 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dahlan Iskan

DAELPOS.com – Pun guru-guru kita. Pasti punya pengalaman unik selama mengajar di masa pandemi. Tapi, apa yang ditulis seorang guru, wanita, di Amerika ini bisa merangsang para guru kita untuk juga menuliskan pengalaman mereka.

Guru di Amerika ini tidak mau mendominasi layar komputer. Dia sering membiarkan muridnya berinteraksi sesama murid.

Dia perlu memahami lebih banyak sifat dan watak semua muridnya. Yang hanya bisa dia kenal lewat wajah dan suara. Itu pun kalau sang murid mau menghidupkan kamera. Beberapa murid tidak mau meng-on-kan kamera. Juga tidak mau bicara. Sang guru begitu sulit mengetahui identitas karakter sang murid.

Yang seperti itu tentu tidak sampai terjadi kalau sekolah berjalan normal. Tapi, sejak pandemi, sekolah dilangsungkan secara online. Guru begitu sulit memahami kejiwaan para muridnya secara sempurna.
Mengapa sang guru tidak mau mewajibkan muridnya meng-on-kan kamera?

Sang guru khawatir akan menimbulkan masalah pribadi yang peka. Misalnya, si murid ternyata miskin. Ia akan merasa minder kalau bagian di rumahnya terlihat jelek di layar. Atau masalah sensitif lainnya. Misalnya, di kamar itu si murid berjejal dengan saudaranya.

Bahkan, bisa jadi si murid membuka laptop atau HP di toilet. Bukan karena lagi buang hajat, melainkan hanya itulah tempat yang tenang di rumahnya. Yang bisa terhindar dari keributan anggota keluarga lainnya.

Dari memberikan waktu chatting antar-murid itu, sang guru juga bisa tahu munculnya singkatan-singkatan baru. Yang belum ada sebelum pandemi. Misalnya, kini murid menulis Idk untuk mengatakan I don’t know. Atau ofc untuk of course. Dan hbu untuk how about you –bukan hay.

See also  Jokowi: Peningkatan Ekspor dan Investasi Kunci Pertumbuhan Ekonomi

Yang juga baru bagi sang guru adalah begitu banyaknya emoji yang digunakan para siswa. Sang guru harus belajar memahami arti emoji untuk memperoleh arti ekspresi sebenarnya yang diinginkan siswa.

Sebelum pandemi, guru bisa memahami respons siswa dengan melihat ekspresi wajah anak didik. Atau memperhatikan gerak tubuh. Di kelas online, guru harus pandai memahami ekspresi siswa di balik emoji yang ditampilkan.

Sang guru menyadari salah satu fungsi sekolah sebagai ”tempat pelarian” bagi seorang anak. Terutama pelarian dari situasi yang menekan jiwanya di rumah. Kini tempat pelarian itu tidak ada. Maka, sang guru harus bisa memerankan diri sebagai tempat pelarian tersebut.

Untuk itu, sang guru membuka diri seluas-luasnya untuk jadi tempat curhat. Termasuk melayani pertanyaan yang kelihatannya sangat sepele. Yang jawabannya juga harus sangat memuaskan. Yang sepele bagi sang guru bisa jadi amat penting bagi siswa yang tertekan.

Misalnya, tulis sang guru, ada siswa yang bertanya, ”Apakah sang guru punya binatang peliharaan?” Bahkan, ada siswa kelas I SMP yang berani memberikan saran agar sang guru mau memelihara spider plant –bunga laba-laba. Yang bisa menurunkan rasa stres sepanjang hari.

Saya tidak paham apa yang disebut spider plant. Saya pun lari ke Google. Ternyata itu tanaman hias yang disukai di Amerika – lihat foto.

MENJULUR- Tanaman hias spider plant. Foto : net
MENJULUR- Tanaman hias spider plant. Foto : net

Tapi, ada juga siswa yang menutup chat box-nya. Yang seperti itu, guru tidak bisa menyelami apa yang terjadi dengan si murid. Ia mau mendengar, tapi tidak mau terlihat di kamera dan tidak mau ngobrol dengan sesama teman satu kelas.

Dari tulisan itu, saya menjadi tahu salah satu perbedaan mengajar online di Indonesia dan di Amerika. Yakni, disediakannya chat box. Yang bisa dimanfaatkan para murid untuk berkomunikasi sesama teman satu kelas.

See also  Presiden Jokowi Ngeteh Bareng Panglima TNI dan Kapolri di Istana Bogor

Guru juga tidak terlalu dominan menjejalkan pelajaran. Terlihat guru memberikan peluang lebih banyak bagi siswa untuk memperlihatkan kemampuan mereka.

Dari chat box itu, sang guru juga bisa tahu keinginan siswa. Misalnya tiba-tiba, di chat box itu, muncul gambar McDonald. Sang guru harus paham bahwa jam belajar harus dihentikan sebentar: untuk makan.

Bukan hanya itu. Gambar yang tiba-tiba muncul di chat box itu bukan sembarang burger McDonald. Tapi burger jenis Travis Scott.

Sang guru memanfaatkan momentum itu untuk meneruskan mengajarnya. ”Apa yang kalian tahu tentang Travis Scott?” tanya sang guru.

Para siswa ternyata sangat antusias menjawab pertanyaan tersebut. Mereka lupa ”tuntutan” berhenti belajar untuk makan.

”Travis Scott itu gila,” ujar siswa di chat box-nya. Ternyata sekarang ini orang datang ke McDonald tidak perlu lagi berkata ingin beli apa. Begitu membuka kaca jendela mobil, mereka tinggal berkata: Anda tahu apa yang saya inginkan. Tidak ada lagi komunikasi lanjutan. Artinya, mereka memesan Travis Scott.

Ada juga yang begitu membuka kaca, mereka berkata: Anda sudah tahu untuk beli apa saya ke sini.
Mereka pun menyertakan emoji tangis dan tawa di chat box itu. Yang ini saya tidak tahu apa arti emoji yang kontradiktif seperti itu.

Bagaimana dengan big mac? Mereka ternyata tidak suka. ”In-N-Out lebih baik,” katanya.
Di Indonesia belum dijual McDonald Travis Scott. Yakni, menu McDonald yang menggunakan nama penyanyi rap terkenal Amerika. Yang tahun ini naik menjadi rapper paling terkenal.

Sudah lama McD tidak menggunakan menu yang diambil dari nama orang. Yang pertama, dulu, adalah McJordan. Yang diambil dari nama megabintang basket Amerika.

See also  Kementerian PU Genjot Program Padat Karya Jalan dan Jembatan Tahun 2025, Serap 43.628 Tenaga Kerja

Membaca artikel di News Chant itu, saya membayangkan betapa sulit menjadi guru di era online sekarang ini. Yang kelihatannya masih akan berlanjut. Setidaknya enam bulan ke depan.

Bagi guru SMP kelas I, atau SMA kelas I, sang guru bisa jadi belum pernah bertemu muka dengan para murid mereka. Satu kali pun.

Bagi guru yang selama ini mengajar dengan penuh perhatian –dan kasih sayang– tentu betapa rindu untuk bisa bertemu anak didiknya. (*)

Berita Terkait

Puan Minta Keselamatan Korban Banjir Padang Jadi Prioritas
Syahganda: Prabowo Dorong Ekonomi Inklusif untuk Rakyat
Launching Peringatan Hari Desa 2027, Mendes Targetkan Kebangkitan Ekonomi Desa
Tekan Kemiskinan di Wanam, Menteri Dody Siapkan Dukungan Gereja dan Kebutuhan Dasarnya
Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja
Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi

Berita Terkait

Monday, 12 October 2026 - 12:50 WIB

Puan Minta Keselamatan Korban Banjir Padang Jadi Prioritas

Sunday, 11 October 2026 - 18:18 WIB

Syahganda: Prabowo Dorong Ekonomi Inklusif untuk Rakyat

Saturday, 10 October 2026 - 19:54 WIB

Launching Peringatan Hari Desa 2027, Mendes Targetkan Kebangkitan Ekonomi Desa

Friday, 9 October 2026 - 08:22 WIB

Tekan Kemiskinan di Wanam, Menteri Dody Siapkan Dukungan Gereja dan Kebutuhan Dasarnya

Wednesday, 7 October 2026 - 12:50 WIB

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Berita Terbaru

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria / foto ist

Ekonomi - Bisnis

Danantara Siapkan PT Kawasan Industri Indonesia, Kelola 35.000 Hektare

Monday, 12 Oct 2026 - 18:55 WIB

Nasional

TEP ITB Dorong Digitalisasi Layanan Kesehatan di Papua

Monday, 12 Oct 2026 - 18:50 WIB

Energy

Srikandi PLN: Soft Skill Jadi Kunci Bersaing di Era AI

Monday, 12 Oct 2026 - 18:31 WIB