DAELPOS.com – Menteri Sosial Tri Rismaharini terus mendorong peningkatan sarana pendukung kebutuhan dasar untuk masyarakat pra-sejahtera, khususnya di kawasan terdepan, terluar dan tertinggal (3T). Salah satu yang terus dimatangkan oleh Mensos adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui intervensi teknologi.
Dari
perjalanan dinas Mensos di berbagai pelosok negeri, banyak kasus
ditemukan masyarakat di kawasan 3T kesulitan memenuhi kebutuhan
dasarnya. Seperti saat Mensos berkesempatan menjejak Pulau Pantar, di
Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seorang
ibu, terpaksa harus melintasi laut menuju pulau seberang, karena dimana
dia tinggal tidak terdapat air. Dia baru bisa kembali esok hari, karena
ketiadaan kapal. Padahal setelah melalui serangkaian uji coba, air bisa
didapat dengan menggali tanah sedalam 4 meter.
Di
kawasan lain kebutuhan air bersih diperkirakan memerlukan teknologi
melalui desalinasi air laut. Yakni proses menghilangkan kadar garam
berlebih pada air, sehingga air dapat dikonsumsi manusia, hewan, dan
tumbuhan.
Untuk
menjawab berbagai tantangan tersebut, Mensos menggelar pertemuan dengan
Rektor Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Dr Ir
Mochamad Ashari MEng, para guru besar, dan civitas akademika ITS.
Pertemuan membahas lanjutan rencana kerja sama sejumlah program dari
kedua institusi.
Secara
umum, pertemuan di Gedung Rektorat ITS (14/02) tersebut, meliputi
inovasi teknologi untuk memudahkan akses transportasi dan ketersediaan
air di beberapa daerah pedalaman dan perbatasan di Indonesia.
“Masih
banyak daerah di kawasan 3T yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan
air bersih. Seperti yang dialami masyarakat di Pulau Alor, kawasan ujung
di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang harus menyeberang ke Pulau
Pantar untuk mendapatkan air,” kata Mensos.
Pun
tak ketinggalan wilayah di Kabupaten Asmat, Papua yang kesulitan
bercocok tanam dan memperoleh air tawar karena kontur tanah yang
cenderung dipenuhi rawa. “Mereka itu benar-benar kesulitan, seorang ibu
di Pulau Alor sampai rela bermalam di Pulau Pantar dan tidak bisa
kembali ke Pulau Alor karena ombak tinggi hanya untuk mendapatkan air,”
katanya.
Hadir
juga dalam pertemuan itu, Prof Dr Ir Adi Soeprijanto MT (Wakil Rektor
1), Ir Mas Agus Mardyanto ME PhD (Wakil Rektor 2), Dr Eng Ir Ahmad
Rusdiansyah MEng (Wakil Rektor 3), dan Bambang Pramujati ST MScEng PhD
(Wakil Rektor 4).
Dalam
pertemuan tersebut, selain membahas inovasi terbaru, Mensos juga
menindaklanjuti pengadaan kapal penumpang bagi masyarakat Memberamo,
Papua. Selain itu, juga motor listrik GESITS untuk mobilitas masyarakat
di pegunungan Papua, hasil kerja sama dengan ITS dan Universitas
Cenderawasih (Uncen), tahun lalu. “Saat ini, telah berhasil dirakit
empat unit kapal yang nantinya akan digunakan untuk transportasi air
masyarakat di Memberamo,” katanya.
Menanggapi
permasalahan serupa yang turut terjadi di kawasan 3T lainnya, Rektor
ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng menyambut antusias kesempatan yang
diberikan Kemensos ini untuk membantu pembangunan daerah tertinggal.
“Dengan senang hati, ITS siap untuk ikut berkontribusi bersama Kemensos
guna mendukung pembangunan Indonesia,” ujarnya.
Selain
proses perakitan kapal yang sudah mencapai 90 persen tersebut, telah
tiba pula dua jenis motor listrik GESITS, yaitu untuk daerah pegunungan
dengan kemiringan standar serta kemiringan curam.
“Saat
ini dua motor listrik GESITS telah tiba di Jayapura, tinggal menunggu
peluncurannya serta transfer teknologi kepada masyarakat sekitar,” tutur
Manajer Sains Techno Park (STP) Otomotif ITS Dr Bambang Sudarmanta ST
MT.
Di
akhir pertemuan, Mensos mengungkapkan bahwa masyarakat Papua sangat
senang menerima bantuan kapal penumpang yang jauh melebihi ekspektasi
mereka. Ia berharap, ke depannya kolaborasi sejenis dengan ITS akan
terus berlanjut.
Tak
lupa, Rektor ITS yang biasa disapa Ashari juga mengucapkan terima kasih
atas kepercayaan Kemensos kepada ITS. “Inovasi ide dari ITS tentu akan
sulit untuk direalisasikan kepada masyarakat tanpa dukungan pemerintah
seperti ini,” katanya.
Dalam pertemuan ini, disepakati beberapa rencana kolaborasi ITS dengan Kementerian Sosial. Di antaranya adalah penelitian lebih lanjut oleh ahli Geofisika ITS terkait peninjauan daerah sulit air bersih, inovasi pembuatan hidroponik apung di daerah rawa, alat desalinasi portable untuk mengubah air laut menjadi air tawar, pengadaan panel surya di daerah minim listrik, serta penyelenggaraan kuliah kerja nyata (KKN) dan kerja praktik (KP) mahasiswa ITS untuk membantu di wilayah sasaran Kemensos.