Haidar Alwi: Kasus Pertamina Harus Jadi Momentum Pemberantasan Mafia Migas.

Monday, 3 March 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, / foto ist

Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, / foto ist

DAELPOS.com – Kasus dugaan korupsi di tubuh Pertamina yang melibatkan tujuh tersangka dan potensi kerugian negara hingga ratusan triliun rupiah menjadi tamparan keras bagi tata kelola energi nasional. Menanggapi hal ini, Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menegaskan bahwa permasalahan utama bukan sekadar kasus pengoplosan BBM atau penyimpangan distribusi, melainkan adanya mafia migas yang telah berakar kuat dan menggerogoti kekayaan negara selama bertahun-tahun.

“Kasus ini tidak boleh hanya berhenti pada penindakan terhadap beberapa individu. Kita harus melihat lebih jauh, siapa yang mengendalikan skema besar mafia migas ini dan bagaimana sistem yang ada selama ini membiarkan mereka beroperasi tanpa tersentuh,” tegas Haidar Alwi. (3/3/2025)

Menurutnya, permainan dalam tata kelola minyak mentah dan BBM impor bukanlah hal baru. Mark-up harga impor minyak, pengaturan broker, serta manipulasi kontrak pengiriman adalah modus lama yang terus terjadi karena lemahnya sistem pengawasan. Jika tidak ada reformasi struktural yang serius, maka mafia migas akan terus mencari celah baru untuk meraup keuntungan pribadi.

Mafia Migas, Ancaman bagi Kesejahteraan Rakyat.

Haidar Alwi menyoroti bagaimana mafia migas telah lama menjadi penghambat bagi kesejahteraan rakyat. Alih-alih energi dikelola untuk kepentingan publik, sistem yang ada justru lebih berpihak pada kepentingan segelintir elite yang mengeruk keuntungan dari kebijakan energi nasional.

“Selama mafia migas masih bercokol di dalam sistem, jangan harap harga BBM bisa stabil dan terjangkau bagi rakyat. Mereka yang bermain di balik layar inilah yang membuat kita selalu menghadapi krisis harga energi,” tegas Haidar Alwi.

Lebih lanjut, Haidar Alwi menegaskan bahwa perbaikan tata kelola energi harus dimulai dari transparansi dan akuntabilitas di dalam tubuh BUMN strategis seperti Pertamina. Tanpa perubahan mendasar, kasus serupa akan terus berulang dengan aktor yang berbeda.

See also  Pemerintah Genjot Energi Surya, Target PLTS 100 Gigawatt

Langkah Konkret: Reformasi Tata Kelola Energi.

Haidar Alwi mengusulkan beberapa langkah konkret yang harus segera diambil pemerintah agar kasus ini menjadi momentum perbaikan, bukan sekadar skandal sesaat:

1. Bersihkan Pertamina dari Mafia Migas.
Pemerintah harus melakukan audit total dan membersihkan oknum-oknum yang terlibat dalam praktik rente di sektor energi. Penindakan hukum harus menyentuh aktor-aktor utama, bukan hanya pejabat di lapangan.

2. Transparansi dalam Impor dan Distribusi Minyak.
Setiap kebijakan impor minyak dan pengelolaan stok nasional harus dilakukan secara terbuka. Kementerian BUMN dan Pertamina harus membuka akses data kepada publik agar tidak ada ruang bagi manipulasi harga dan mark-up biaya pengiriman.

3. Peningkatan Sistem Pengawasan dan Akuntabilitas.
Perbaikan sistem pengawasan di sektor energi harus menjadi prioritas. Mekanisme audit yang lebih ketat dan independen harus diterapkan agar mafia migas tidak bisa lagi bermain di balik layar.

4. Mendorong Efisiensi dan Profesionalisme BUMN Migas.
Pertamina harus diarahkan menjadi perusahaan yang profesional dan efisien, seperti Aramco atau Shell. Campur tangan politik dalam pengelolaan BUMN harus dikurangi agar perusahaan bisa bergerak lebih transparan dan akuntabel.

5. Presiden Prabowo Harus Menjadi Panglima Pemberantasan Mafia Migas.
Haidar Alwi menegaskan bahwa tanpa peran aktif Presiden Prabowo Subianto, mafia migas tidak akan pernah bisa diberantas sepenuhnya. Perlu komitmen kuat dari kepala negara untuk memastikan reformasi energi berjalan tanpa intervensi dari kelompok kepentingan.

 

“Kasus ini harus menjadi titik balik. Jika kita gagal memanfaatkannya untuk melakukan reformasi besar-besaran, maka kita hanya akan melihat skandal serupa terulang di masa depan dengan aktor yang berbeda tetapi modus yang sama,” tegas Haidar Alwi.

See also  Ikut Palestine Day, Puluhan Siswa ‘Pergi ke Palestina’ Tanpa Tinggalkan Jakarta

Sebagai pakar pertambangan dan pengusaha di sektor energi, Haidar Alwi berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya tata kelola energi yang bersih dan transparan. Ia berharap bahwa kasus ini tidak hanya menjadi ajang sensasi politik, tetapi benar-benar menjadi pijakan untuk membangun sistem yang lebih berintegritas demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Berita Terkait

KPK Tahan Eks Pejabat Pajak, Tersangka Gratifikasi di Lingkungan DJP
KPK Tahan Eks Kakanwil DJP Jakarta Khusus Muhammad Haniv
KPK Tahan 4 Tersangka Korupsi Iklan Bank BJB, Negara Rugi Rp223,6 Miliar
Kejagung Tetapkan Febrie Adriansyah Tersangka TPPU
KPK OTT Bupati Sukoharjo, Diduga Peras OPD dan Potong Insentif Pegawai
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU PT ASABRI
OJK Sita 41 Aset Terkait Dugaan Tindak Pidana Perbankan Syariah di BPRS GP
Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pejabat BGN Tersangka Korupsi MBG

Berita Terkait

Friday, 21 August 2026 - 18:56 WIB

KPK Tahan Eks Pejabat Pajak, Tersangka Gratifikasi di Lingkungan DJP

Thursday, 20 August 2026 - 09:20 WIB

KPK Tahan Eks Kakanwil DJP Jakarta Khusus Muhammad Haniv

Tuesday, 11 August 2026 - 09:51 WIB

KPK Tahan 4 Tersangka Korupsi Iklan Bank BJB, Negara Rugi Rp223,6 Miliar

Saturday, 25 July 2026 - 09:19 WIB

Kejagung Tetapkan Febrie Adriansyah Tersangka TPPU

Monday, 13 July 2026 - 22:59 WIB

KPK OTT Bupati Sukoharjo, Diduga Peras OPD dan Potong Insentif Pegawai

Berita Terbaru

Olahraga

Timnas Voli Putri Bungkam Kazakstan, Revans Terbayar

Saturday, 22 Aug 2026 - 22:52 WIB