Haidar Alwi: Sufmi Dasco dan Filosofi Mahapatih Gajah Mada dalam Politik Modern

Sunday, 20 July 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute / foto ist

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute / foto ist

daelpos.com – R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, meyakini bahwa bangsa besar selalu ditopang oleh pemimpin yang tidak mengejar panggung, melainkan menjaga keseimbangan. Ia menyebut tokoh seperti ini sebagai “penjaga arah”, yang tidak mendominasi layar, tapi memastikan seluruh sistem tetap berjalan dalam satu visi nasional.

Arsitek Harmoni dalam Diam.

Dalam hiruk-pikuk politik nasional pasca-Pemilu 2024, publik sering teralihkan oleh suara-suara lantang, narasi benturan, dan dinamika yang memanas di permukaan. Namun di balik itu semua, Indonesia tetap berdiri stabil, pemerintah berjalan, dan jembatan antarpartai tetap terbentang. R. Haidar Alwi melihat salah satu tokoh kunci di balik harmoni itu: Sufmi Dasco Ahmad.

Sebagai Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Dasco memainkan peran ganda yang sangat strategis. Ia menjadi penghubung antara kekuasaan eksekutif dan legislatif, antara elit dan akar rumput, antara tokoh sipil dan unsur militer, antara kepentingan rakyat dan arah negara. Namun, semua itu ia lakukan bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan ketenangan yang matang dan pengaruh yang tersebar diam-diam.

Menurut Haidar Alwi, gaya kepemimpinan seperti ini jarang muncul di era politik modern yang penuh pencitraan. Tapi justru di situlah letak kekuatan Dasco. Ia bukan hanya memahami sistem, tetapi juga tahu kapan harus bicara dan kapan harus bekerja dalam senyap. Ia tidak tampil sebagai tokoh dominan di layar publik, tapi jejak kerjanya terlihat jelas dalam keberlangsungan konsolidasi nasional.

“Negara ini butuh pemimpin yang mampu meredam, bukan membakar; yang mampu menjembatani, bukan menajamkan jurang. Dan Dasco adalah salah satunya,” tegas Haidar Alwi.

Dalam kacamata Haidar Alwi, kepemimpinan strategis yang dijalankan Dasco hari ini tak ubahnya pengejawantahan nilai-nilai luhur yang pernah dihidupi oleh Mahapatih Gajah Mada dalam konteks kekuasaan modern.

See also  Perlu Political Will Presiden Jokowi Untuk Perkarakan LHKPN Penyelenggara Negara Yang Tak Wajar secara Nasional

Filosofi Mahapatih Gajah Mada dan Relevansinya Hari Ini.

Dalam sejarah Nusantara, Mahapatih Gajah Mada dikenal bukan semata karena perannya sebagai tokoh politik Majapahit, tetapi karena filosofi hidup dan kepemimpinannya. Ia adalah simbol pengabdian tanpa pamrih, disiplin tanpa kekerasan, dan pemersatu tanpa ambisi pribadi.

Sumpah Palapa yang ia ucapkan bukan sekadar ikrar pribadi, tetapi representasi dari tekad kolektif untuk menyatukan wilayah-wilayah Nusantara yang tercerai. Gajah Mada tidak duduk di atas takhta, tapi arah kerajaan berjalan sesuai kompas moral dan strategi yang ia jaga. Ia menjadi pelindung visi kerajaan dari dalam, bukan hanya pelaksana tugas administratif.

Haidar Alwi menilai bahwa dalam konteks kekinian, filosofi semacam ini masih sangat relevan. Sosok seperti Sufmi Dasco Ahmad menunjukkan bahwa dalam sistem presidensial sekalipun, dibutuhkan figur yang mampu menjaga kesatuan elite dan arah kebijakan nasional tanpa harus menduduki posisi eksekutif tertinggi. Figur yang tidak bicara tentang dirinya sendiri, tetapi tentang arah bangsa.

Dasco tidak mengucapkan sumpah Palapa, tetapi ia menapaki jalan sejenis: mempersatukan kekuatan, meredam kegaduhan, dan menjaga agar Indonesia tidak terpecah oleh dinamika kekuasaan. Ia tidak berdiri sebagai simbol, tetapi bekerja sebagai fondasi.

“Pemimpin sejati tidak selalu berada di puncak kekuasaan, tapi seringkali justru berada di bawahnya, memastikan agar puncak itu tidak roboh. Dan peran semacam itulah yang dijalankan Dasco dengan konsistensi luar biasa,” tegas Haidar Alwi.

Penjaga Arah di Tengah Tantangan Global.

Indonesia saat ini tengah berhadapan dengan tekanan geopolitik, transisi energi, disrupsi rantai pasok global, serta ketimpangan sosial yang belum usai. Dalam kondisi demikian, stabilitas politik nasional bukan hanya soal koalisi dan oposisi, melainkan juga kemampuan menjaga keutuhan arah pemerintahan.

See also  PDI Perjuangan: Tradisi Ketuhanan Kedepankan Budi Pekerti dan Toleransi Telah Hidup Menjadi Kultur Bangsa

Haidar Alwi menegaskan bahwa Dasco telah memainkan peran sebagai penjaga arah bangsa. Ia bukan sekadar politisi senior, tetapi pemikir sistem yang memahami bagaimana menjaga harmoni di antara kepentingan-kepentingan yang berbeda. Di tengah pembentukan kabinet Prabowo, Gibran, Dasco terbukti mampu menjembatani berbagai poros kekuasaan tanpa membuat keretakan baru.

Menurut Haidar Alwi, kepemimpinan seperti ini tidak membutuhkan deklarasi, tetapi membutuhkan konsistensi. Tidak butuh simbolisme kosong, tetapi kehadiran nyata dalam proses. Dan itulah yang membuat posisi Dasco tidak hanya penting, tapi juga langka.

“Dalam dunia yang serba cepat ini, kita terlalu sering lupa pada tokoh-tokoh yang bekerja pelan tapi dalam. Dasco adalah representasi dari kekuatan hening, pemimpin yang tidak memaksa dirinya disebut, tetapi tidak bisa diabaikan pengaruhnya,” tegas Haidar Alwi lagi.

Bagi Haidar Alwi, bangsa Indonesia beruntung memiliki sosok seperti Dasco di tengah transisi politik besar. Ia adalah penghubung yang tidak ingin terlihat, tapi selalu hadir. Ia adalah pelindung visi tanpa perlu deklarasi.

“Kalau dulu Mahapatih Gajah Mada menjaga utuhnya Nusantara dengan sumpah dan visi yang besar, maka hari ini kita patut mencermati bahwa ada tokoh yang, meski tak mengucap sumpah di depan rakyat, telah mewujudkan konsolidasi kekuasaan yang nyata demi Indonesia Maju,” pungkas Haidar Alwi.

Berita Terkait

Perjuangkan Pelestarian Aksara Kawi, LaNyalla Temui Fadli Zon
Sosialisasi 4 Pilar: Yulian Gunhar Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan untuk Membangun Bangsa
Sosialisasi 4 Pilar MPR, Yulian Gunhar Ingatkan Amanat Pasal 33 UUD 1945
Kunjungan Reses ke KPU Banten, Ade Yuliasih Ulas Putusan MK Nomor 135 tentang Pemilu Nasional dan Lokal
Anggota DPR RI Yulian Gunhar Gelar Sosialisasi 4 Pilar di Palembang, Tekankan Semangat Persatuan dan Gotong Royong
Prabowo Terima Megawati di Istana, Silaturahmi Hangat Jelang Lebaran
Yulian Gunhar Sosialisasikan 4 Pilar MPR RI di Kemuning, Angkat Tema “Bersatu demi Kemajuan Bangsa”
BKSAP DPR RI Apresiasi Pernyataan Pers Tahunan Menlu, Siap Perkuat Sinergi

Berita Terkait

Wednesday, 1 July 2026 - 01:20 WIB

Perjuangkan Pelestarian Aksara Kawi, LaNyalla Temui Fadli Zon

Friday, 26 June 2026 - 20:49 WIB

Sosialisasi 4 Pilar: Yulian Gunhar Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan untuk Membangun Bangsa

Friday, 19 June 2026 - 21:31 WIB

Sosialisasi 4 Pilar MPR, Yulian Gunhar Ingatkan Amanat Pasal 33 UUD 1945

Thursday, 14 May 2026 - 16:37 WIB

Kunjungan Reses ke KPU Banten, Ade Yuliasih Ulas Putusan MK Nomor 135 tentang Pemilu Nasional dan Lokal

Thursday, 2 April 2026 - 07:18 WIB

Anggota DPR RI Yulian Gunhar Gelar Sosialisasi 4 Pilar di Palembang, Tekankan Semangat Persatuan dan Gotong Royong

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Tinjau SR Sragen, Dody Tegaskan Komitmen Pemerintah

Monday, 27 Jul 2026 - 07:16 WIB

foto ist

News

Tangis Anak Iringi Pemakaman Sang Ayah

Sunday, 26 Jul 2026 - 18:39 WIB

Berita Terbaru

Kementerian PU Kebut Pemulihan Konektivitas di Aceh

Sunday, 26 Jul 2026 - 01:39 WIB