daelpos.com – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengingatkan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan anggota Korps Alumni HMI (KAHMI) agar tetap menjaga independensi etis dan organisatoris di tengah dinamika politik nasional.
Pesan tersebut disampaikan saat menerima delegasi HMI Cabang Jakarta Selatan, HMI Cabang Jakarta Pusat-Utara, serta KAHMI Cilegon di Kalibata, Jakarta, Rabu (23/4/2026).
“Prinsip independensi perlu dijaga, karena kerap ada pihak yang membawa-bawa nama organisasi untuk kepentingan tertentu,” ujar Viva Yoga.
Ia menegaskan, kader HMI harus berhati-hati dalam menyikapi situasi politik agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lain. “Jangan sampai kader menjadi ‘kayu bakar’. Orang lain yang panen, kalian tidak dapat apa-apa,” tegasnya.
Meski demikian, Viva Yoga mendorong kader HMI tetap kritis terhadap berbagai isu. Menurutnya, sikap kritis merupakan bagian integral dari karakter organisasi.
Dalam kesempatan itu, mantan Presidium MN KAHMI tersebut juga mengingatkan pesan tokoh pemikir Islam Nurcholish Madjid (Cak Nur) agar kader HMI mampu berbicara dan menulis.
“Kalau dibilang kader HMI tukang ngomong, ya memang harus bisa berbicara. Kalau berdebat, harus mampu berargumentasi dengan baik,” katanya.
Ia mengaku nilai-nilai tersebut telah diterapkannya sejak menjadi kader HMI Cabang Denpasar hingga berkiprah di tingkat nasional. Kebiasaan menulis, lanjutnya, penting untuk mengasah intelektualitas kader.
“Dulu ruang menulis ada di media cetak seperti koran. Sekarang kader bisa menulis di mana saja, termasuk di media sosial,” ujarnya.
Lebih jauh, Viva Yoga menekankan pentingnya kaderisasi yang berkelanjutan dan masif guna melahirkan insan yang mampu berkontribusi di berbagai bidang pengabdian.
Menurutnya, kader HMI telah banyak berkiprah di berbagai sektor, mulai dari legislatif, eksekutif, yudikatif, hingga lembaga sosial dan pendidikan.
Viva Yoga juga mengaku senang dapat bersilaturahmi dengan para kader dan alumni HMI. Ia turut berbagi pengalaman saat menjadi kader di Denpasar, Bali, yang memiliki dinamika sosial dan budaya berbeda.
“Sebagai kelompok minoritas di Bali, tentu banyak pengalaman berharga dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat,” pungkasnya.








