daelpos.com – Pemerintah mulai menggeber dua mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Selain mengandalkan belanja negara, pemerintah kini mendorong sektor swasta agar lebih agresif bergerak melalui penguatan likuiditas perbankan dan percepatan investasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, strategi tersebut dilakukan agar roda ekonomi nasional bergerak lebih cepat dan merata menuju target pertumbuhan 8 persen.
“Gimana kita menjalankannya? Selain belanja pemerintah, kita pastikan uang di perekonomian cukup. Sehingga perbankan kita paksa untuk bekerja, menyalurkan uang yang di perbankan sehingga masuk ke perekonomian. Dengan cara itu kita menghidupkan private sector juga,” ujar Menkeu dalam Jogja Financial Festival, Jumat (22/5).
Menurutnya, saat ini mesin pertumbuhan ekonomi mulai bergerak dari dua sisi sekaligus, yakni pemerintah dan sektor swasta.
“Jadi sekarang mesin ekonomi kita udah mulai bergerak dua-duanya. Mesin pemerintah dan mesin sektor swasta. Dan ini kita akan jalankan terus ke depan,” lanjutnya.
Purbaya menegaskan, target pertumbuhan ekonomi 8 persen memang tinggi, namun bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Salah satu kuncinya adalah memastikan dunia usaha memiliki akses pembiayaan yang memadai dan kompetitif.
Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah memindahkan dana sekitar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sistem perbankan nasional. Langkah itu dilakukan untuk memperkuat likuiditas dan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor produktif.
“Jadi angka 8 persen itu tinggi memang, cuman bukan angka yang mustahil. Kalau sekarang saya udah mulai melihat gimana cara memperbaikinya. Pertama saya pastikan swasta bisa tumbuh dengan kecukupan uang di sektor finansial,” jelasnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga membentuk Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Satgas lintas kementerian tersebut bertugas membereskan berbagai hambatan investasi, mulai dari persoalan perizinan hingga koordinasi antarinstansi.
Melalui skema itu, sejumlah proyek strategis nasional diharapkan dapat dipercepat penyelesaiannya sehingga investasi bisa segera berjalan.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyiapkan pembiayaan berbunga rendah bagi perusahaan berorientasi ekspor. Fasilitas tersebut akan disalurkan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dan PT Sarana Multi Infrastruktur dengan bunga sekitar 5–6 persen.
“Dari situ, masyarakat atau businessman bisa melihat betapa serius kita memperbaiki ekonomi investasi,” pungkas Menkeu.








