daelpos.com – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyampaikan, investasi dan hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga menjadi fondasi bagi terwujudnya industri nasional yang produktif, transparan, berdaya saing, serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan pekerja. Hal tersebut disampaikan dalam Keynote Speech pada Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Hall B, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Rosan menegaskan bahwa arah kebijakan hilirisasi Indonesia harus mampu menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan. Investasi yang masuk tidak hanya diukur dari besaran nilai modal, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan produktivitas nasional, memperkuat penguasaan teknologi, serta memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
“Kami meyakini keberadaan dari Bapak, Ibu, Mahasiswa, dan Mahasiswi di universitas terutama di bidang riset dan development-nya tentunya memberikan kontribusi yang sangat sangat positif. Oleh sebab itu kita tinggal memikirkan kolaborasi ke depannya supaya hal-hal positif yang sudah dilahirkan dari investasi dan hilirisasi ini bisa di implementasikan ke dalam industri-industri yang ada dan bisa menghasilkan manfaat yang luar biasa ke depannya.” ujar Menteri Rosan.
Menteri Rosan menambahkan, arah kebijakan hilirisasi telah menunjukkan hasil yang nyata. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% (year-on-year) dan berhasil melampaui target pemerintah dengan capaian 101,3%. Investasi tersebut turut menyerap lebih dari 2,7 juta tenaga kerja langsung, meningkat 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Riset yang terhubung dengan industri menjadi salah satu faktor penting dalam membangun industri yang sehat dan berkelanjutan. Kepastian regulasi, good governance, serta kemudahan berusaha akan meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menciptakan persaingan usaha yang adil,” imbuhnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem inovasi nasional, pemerintah telah memberikan insentif Super Tax Deduction hingga 300% bagi kegiatan riset dan pengembangan serta hingga 200% bagi kegiatan pendidikan dan pelatihan.
Menteri Rosan menegaskan, kebijakan tersebut akan memberikan dampak optimal apabila diikuti dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di sektor industri.
Selain itu, aspek kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda hilirisasi nasional. Menurutnya, pembangunan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan, riset, peningkatan kompetensi, keselamatan kerja, serta terciptanya hubungan industrial yang harmonis.
Melalui Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026, diharapkan tercipta ruang dialog yang konstruktif untuk memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan investasidan hilirisasi yang inklusif, berkelanjutan, serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)








