daelpos.com – Di tengah laju urbanisasi dan fragmentasi sosial masyarakat modern, paguyuban kedaerahan tetap menjadi jangkar kultural yang krusial. Peran strategis inilah yang kembali ditegaskan dalam agenda silaturahmi sekaligus serah terima kepengurusan Paguyuban Warga Kabupaten Bantul (Warkaban) periode 2026–2029 yang berlangsung di Hotel Grand Travello Kota Bintang, Bekasi, Sabtu (4/7/2026).
Momentum ini menandai estafet kepemimpinan dari Drs. Didik Akhmadi, Ak., M.Kom (periode 2023–2026) kepada Dr. Sigit Mustofa Nurudin, S.T., M.M., yang akan menakhodai organisasi hingga tiga tahun ke depan. Diadakannya acara ini secara hibrida—dihadiri fisik di Bekasi dan diikuti secara daring oleh anggota dari Bandung, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur—menunjukkan bahwa sekat geografis bukan lagi penghalang bagi diaspora Bantul untuk mengonsolidasikan diri.
Refleksi Kinerja dan Keberlanjutan Organisasi
Dalam lanskap organisasi sosial, keberlanjutan (sustainability) adalah kunci. Didik Akhmadi, saat memaparkan capaian masa baktinya, menitipkan pesan penting agar kepengurusan baru tidak meruntuhkan fondasi yang ada, melainkan melakukan penyempurnaan yang adaptif.
“Pengurus baru diharapkan dapat meneruskan program-program yang telah ada, mengambil hal-hal yang baik, serta memperbaiki hal-hal yang masih kurang sehingga Warkaban semakin berkembang dan bermanfaat bagi anggotanya,” ujarnya.
Hadirnya Kepala Badan Penghubung Daerah DIY, Nugrohoningsih, selaku pembina, menegaskan bahwa pemerintah daerah memandang Warkaban bukan sekadar perkumpulan nostalgia, melainkan mitra strategis pembangunan kemasyarakatan di luar wilayah asal.
Manifestasi Slogan: Dari Internal Menuju Kontribusi Nasional
Tantangan nyata bagi Dr. Sigit Mustofa kini adalah bagaimana menerjemahkan filosofi lokal menjadi aksi nyata yang berdampak makro. Hal ini digarisbawahi oleh para penasehat paguyuban yang hadir, Dr. Roeshadi, Dr. H. Noor Syamsu Hidayat, S.P., S.IP, Dr. H. R. Agus Sriyanto, MPd dan Dr. Abdul Kholiq.
Sebagai organisasi yang telah diakui resmi oleh Pemda DIY sebagai salah satu paguyuban besar, Warkaban memikul tanggung jawab moral yang besar. Nilai “Guyup Rukun Migunani” (Kebersamaan yang Rukun dan Bermanfaat) dituntut untuk tidak berhenti sebagai slogan di atas kertas, melainkan mewujud dalam gerakan sosial yang konkret.
Bagi para penasehat, dharma bakti organisasi harus dimulai dari soliditas internal terlebih dahulu, sebelum bertransformasi menjadi energi positif bagi masyarakat luas. Pada akhirnya, dengan nakhoda baru ini, Warkaban tidak hanya diharapkan menjadi ruang pelepas rindu bagi warga Bantul di perantauan, tetapi juga aktor sosial yang solid, inklusif, dan mampu memperluas kiprahnya dalam pembangunan sosial-kemasyarakatan di Indonesia.








