daelpos.com – Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengingatkan produsen, distributor, hingga pedagang masker agar tidak melakukan penimbunan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akibat dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Yuke menegaskan, kondisi bencana tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencari keuntungan dengan cara menahan stok maupun memainkan harga masker di pasaran.
“Jangan memanfaatkan situasi ini. Karena ini adalah situasi musibah untuk kita semua. Secara kemanusiaan, musibah ini jangan dimanfaatkan untuk mencari keuntungan,” kata Yuke, Senin (7/9).
Menurutnya, kebutuhan masker saat ini bukan hanya datang dari masyarakat Jakarta. Sejumlah daerah lain yang terdampak bencana, termasuk kebakaran hutan, juga membutuhkan masker dalam jumlah besar.
Yuke mengaku pihaknya pernah mengalami kesulitan memperoleh masker dalam jumlah banyak ketika hendak membantu penanganan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.
Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi perhatian agar stok masker tidak sengaja ditahan oleh produsen, distributor maupun pedagang.
“Kita berharap mudah-mudahan penjual atau pihak-pihak atau supplier dan sebagainya tidak memanfaatkan hal ini, tidak memainkan harga dan melihat ini sebagai suatu bencana yang memang harus kita tangani bersama,” ujarnya.
Untuk mencegah praktik penimbunan, Yuke mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) terkait memperketat pengawasan di lapangan.
Pemeriksaan secara berkala maupun acak, menurutnya, perlu dilakukan mulai dari pusat produksi, distributor hingga pedagang besar.
Yuke juga mengusulkan agar razia pasar dilakukan sejak dini. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan tidak ada pihak yang sengaja menimbun masker hingga menyebabkan kelangkaan dan menyulitkan masyarakat.
“Mudah-mudahan kita juga mengimbau bisa ada razia pasar, biar kita bisa antisipasi dari awal. Jangan sampai nanti sudah terlanjur akhirnya banyak yang dirugikan,” katanya.
Sejumlah sentra perdagangan masker seperti Pasar Asemka dan Pasar Pramuka, lanjut Yuke, dapat menjadi lokasi pemeriksaan secara acak apabila ditemukan indikasi penimbunan.
“Khususnya di pusat-pusat pabrik, pusat-pusat distributor, atau mungkin pedagang-pedagang besar, Asemka, Pramuka, secara random bisa dicek untuk yang melakukan penimbunan,” ujarnya.
Yuke menekankan, ketersediaan masker harus dijaga karena menjadi kebutuhan penting masyarakat, terutama kelompok rentan.
Paparan abu vulkanik, kata dia, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi lanjut usia dan masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.
“Kita juga tidak ingin ada saling menumpuk barang, padahal itu sangat dibutuhkan masyarakat saat ini. Apalagi untuk orang-orang tua dan yang komorbid, itu sangat membahayakan untuk kesehatan,” tutur Yuke.








