daelpos.com – Inflasi DKI Jakarta pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,51 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka ini melandai dibandingkan Februari yang mencapai 0,63 persen (mtm), meski masih sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 0,41 persen (mtm).
Kenaikan harga pada Maret terutama dipicu meningkatnya permintaan musiman selama Ramadan dan Idulfitri. Namun, berbagai kebijakan pengendalian harga dari pemerintah pusat dan daerah dinilai mampu menahan laju inflasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Iwan Setiawan, mengatakan secara tahunan inflasi Jakarta pada Maret 2026 tercatat 3,37 persen (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 4,91 persen (yoy), serta sedikit di bawah inflasi nasional sebesar 3,48 persen (yoy).
“Penurunan inflasi tahunan antara lain dipengaruhi berkurangnya faktor base effect dari diskon tarif listrik pada awal 2025 yang kini semakin terbatas,” ujar Iwan, Kamis (2/4).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan 1,46 persen (mtm), meski melandai dari bulan sebelumnya sebesar 2,23 persen (mtm). Kenaikan harga terjadi pada komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan cabai merah akibat tingginya permintaan serta terbatasnya distribusi selama Idulfitri.
Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki mencatat inflasi 1,15 persen (mtm), naik dari 0,30 persen (mtm) pada Februari. Peningkatan ini didorong oleh naiknya harga celana jeans dan celana pendek pria menjelang hari raya.
Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,41 persen (mtm), berbalik dari deflasi 0,35 persen (mtm) pada Februari. Kenaikan ini dipicu penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 serta meningkatnya tarif angkutan antarkota seiring tingginya mobilitas masyarakat.
Meski demikian, tekanan inflasi di sektor transportasi tertahan oleh berbagai insentif, seperti diskon tiket pesawat, kereta api, dan tarif tol selama periode mudik.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 0,56 persen (mtm), turun signifikan dari 2,72 persen (mtm) pada Februari. Kenaikan harga terutama terjadi pada produk parfum, sampo, dan perawatan wajah. Adapun harga emas perhiasan naik terbatas seiring tren harga global yang melemah.
Selama Ramadan dan Idulfitri, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta memperkuat upaya stabilisasi harga melalui pasar murah, program pangan bersubsidi, peningkatan pasokan dari urban farming, serta kerja sama BUMD pangan dengan produsen.
Distribusi juga dijaga tetap lancar melalui operasional truk pangan keliling dan fasilitasi distribusi dari Bank Indonesia guna memperluas jangkauan pasar murah. Koordinasi rutin TPID serta komunikasi publik turut dilakukan untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.
Ke depan, strategi pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui pendekatan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah ini penting untuk mengantisipasi risiko global seperti konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan, volatilitas harga komoditas, serta tekanan nilai tukar.
Di sisi domestik, risiko juga datang dari potensi fenomena El Nino kuat yang diperkirakan terjadi pada Mei hingga November 2026 dan berpotensi memicu kekeringan panjang, khususnya di wilayah selatan Indonesia.
“Dengan sinergi yang terus diperkuat dalam TPID DKI Jakarta, inflasi diharapkan tetap terkendali dalam kisaran target 2,5±1 persen sepanjang 2026,” tandas Iwan.








