Cetak Uang

Monday, 11 May 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dahlan Iskan

DAELPOS.com – Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya posisi Presiden Jokowi saat ini: cetak uang seperti yang diinginkan DPR? Atau terbitan obligasi seperti yang diinginkan Menteri Keuangan Sri Mulyani? 

Itulah dua pilihan yang tidak sederhana. Itu sudah menyangkut mazhab dalam ilmu ekonomi. Itu sudah bukan masalah furu’iyah. Itu sudah menyangkut akidah ekonomi. Perdebatan soal itu memerlukan pemikiran tingkat guru besar ekonomi. Tidak boleh lagi hanya berdasar emosional, solidarity, atau pun logika dangkal.

Kelihatannya Presiden Jokowi membiarkan dulu perdebatan antara dua kubu itu. Tapi di ujungnya nanti presiden pasti akan membuat putusan. Untuk mengatasi krisis ekonomi pasca Covid-19 ini.

Bisa saja Presiden akhirnya memilih cetak uang. Itu berarti Presiden memenangkan kelompok politik. DPR kini sudah dikuasai mazhab cetak uang. Bahkan DPR sudah memutuskan harus cetak uang. 

Tekanan politik akan sangat kuat untuk itu.

Bisa juga Presiden memutuskan pilih mengeluarkan obligasi. Lebih baik menambah utang. Berarti memenangkan kelompok teknokrat ekonomi. Yang di dalamnya dikomandani oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. 

Pilihan yang mana pun tidak masalah. Sepanjang pihak yang dikalahkan tidak bereaksi negatif. Maka presiden akan menghitung dengan cermat reaksi negatif itu. 

Kalau Presiden memilih obligasi (utang), berarti presiden memenangkan mazhab teknokrat. Alias mengalahkan mazhab politik. Akankah itu ada risiko politik? Yang sampai membuat koalisi ambyar? Yang membuat bojo anyar seperti Golkar ngambek?

Sebaliknya kalau Presiden memilih memutuskan cetak uang. Berarti memenangkan kelompok politik –teknokrat dikalahkan. Adakah risikonya? Bisa jadi kepercayaan dunia atas Indonesia merosot. Bahkan bisa saja menteri keuangan memilih berhenti. 

Rasanya teknokrat sekelas Sri Mulyani tidak akan mau mempertaruhkan reputasinyi. Dia tidak akan mau menerima ide seperti cetak uang. Baginyi itu sudah seperti murtad. Cetak uang tidak ada dalam ”rukun iman” mazhab ilmu ekonomi yang dianutnyi.

See also  Pesan Wamen PANRB untuk Insan PU pada Launching Corporate University

Jangan-jangan Presiden akhirnya memutuskan memilih jalan aman. Yakni pilihan nomor 3: tidak memutuskan apa-apa.

Tidak memutuskan apa-apa berarti tidak berbuat apa-apa. Lantas dari mana negara mendapat uang untuk membangun kembali ekonomi?

Rasanya tidak ada lagi sumber uang yang lain. Pajak dan penerimaan non-pajak sama sekali tidak bisa diharap. Menarik pajak itu ibarat mengambil telur ayam dari pendaringan. Kini ayamnya lagi ambyar. Tidak bisa bertelur lagi. Kalau pun dipaksa sampai harus dipijit-pijit perutnya yang bisa keluar hanya telek.

Berarti Presiden harus membuat putusan. Tapi pilihan yang mana?

Betul-betul tidak mudah. Kita bantu doa di malam-malam Ramadan kita. Saya pun rela mencari Lailatul Qadar di sepertiga terakhir bulan puasa ini. Untuk dipersembahkan demi kekuatan batin Presiden.

Kini Presiden harus memutuskan dua perkara besar sekaligus. Pertama, bagaimana bisa memadamkan kebakaran di negara ini. Kedua, bagaimana membangun negara di atas reruntuhan kebakaran itu.

Saya ikuti terus pergulatan dua mazhab itu –dari jauh. Begitu keras perseteruan antar dua mazhab itu. Di puncak kekuasaan republik ini. Untung publik tidak banyak tahu –dan sebaiknya tidak usah tahu? 

Publik juga akan lelah kalau harus mengikuti pergulatan kelas profesor itu.

Di edisi besok, DI’s Way akan mengikhtisarkan pergulatan itu. Dengan syarat pembaca tidak boleh emosi. Cebong dan kampret tidak boleh ikut berkomentar. Ini persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan emosi dan perasaan.

Saya jadi ingat perdebatan antar calon presiden Amerika dua periode lalu. Dua-duanya tidak perlu diragukan kehebatannya, kepintarannya dan nama besarnya.

Yang mana pun yang terpilih tidak akan salah. Karena itu rakyat diminta memperhatikan di antara dua pilihan yang sama-sama hebat itu: siapa yang akan lebih siap kalau ada telepon berdering pukul 3 pagi. (Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja
Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi
Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon
Dorong Ketahanan Pangan, Transmigran Gerbang Mas Perkasa dan TEP UI Sulap Lahan Tandus Jadi Pekarangan
Gunhar: Kekayaan Alam Harus Digunakan Sebesar-besarnya untuk Kesejahteraan Rakyat
Menteri Dody Sisir Titik Kekeringan, Perjuangkan Air bagi Petani demi Swasembada Pangan

Berita Terkait

Wednesday, 7 October 2026 - 12:50 WIB

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Monday, 5 October 2026 - 13:04 WIB

Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan

Saturday, 3 October 2026 - 13:53 WIB

Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Saturday, 3 October 2026 - 10:54 WIB

Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi

Friday, 2 October 2026 - 12:41 WIB

Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon

Berita Terbaru

Nasional

Mendes Yandri Ajak ISSF dan Perusahaan Mitra Perluas Desa Binaan

Wednesday, 7 Oct 2026 - 18:48 WIB

Energy

Fasilitasi OTA Wolbachia di Kampus, ITPLN Aktif Berantas DBD

Wednesday, 7 Oct 2026 - 16:39 WIB