Di Tengah Masa Sulit, Pak Harto Minta Menterinya Bangun Musala di Setiap Proyek

Wednesday, 3 June 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Ada sebuah prinsip yang dipegang teguh oleh Presiden kedua RI HM Soeharto dalam menyukseskan pembangunan dan perekonomian, termasuk di tengah-tengah masa sulit.

Salah satu prinsip yang menjadi pegangan para pejabat di masa Pak Harto, misalnya pada 1976 silam, bahwa dengan iman tak ada kesulitan. Prisip ini juga terejawantah dalam setiap pembangunan proyek-proyek pemerintah.

Sebuah arsip pemberitaan ANTARA yang dipublikasikan pada 15 Mei 1976, Pak Harto selalu meminta dibangun sebuah musala di setiap proyek pemerintah. Bahkan untuk proyek jembatan sekalipun.

Dikutip dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Pak Harto meminta pada Menteri PUTL agar ada pembangunan musala dalam setiap proyek-proyek seperti pembangkit tenaga listrik, jembatan, irigasi, dan sebagainya.

“Sebagai orang Solo, maka saya anggap permintaan Presiden itu sebagai perintah”, kata Menteri PUTL Dr Ir H Sutami, Senin, dalam peresmian musala As-Salam disamping kanan gedung induk Departemen PUTL dengan biaya Rp8 juta.

Menariknya, pembangunan musala ternyata tidak menggunakan uang negara. Permintaan Kepala Negara itu dikemukakan pada Menteri Sutami waktu pamit untuk menjalankan ibadah haji kala itu. Menteri Sutami menjelaskan, pembangunan musala As-Salam waktu dilakukan dengan gotong-royong oleh keluarga besar PUTL tanpa memberatkan anggaran negara.

Menurut Sutami, ada orang Bappenas yang selalu melakukan penyelidikan kalau saja uang negara digunakan untuk membangun musala dengan uang negara. Karenanya, tak mungkin membangun musala dengan uang negara yang bukan dianggarkan untuk itu, atau dengan uang yang tak jelas asalnya, sebab pembangunan musala adalah soal hubungan kita dengan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Menteri PUTL mengatakan berikutnya, ia akan meminta kantor-kantor PUTL di daerah untuk membangun musala pula dengan cara gotong royong.

See also  Jokowi Berikan 64 Tanda Kehormatan Termasuk Surya Paloh, Prabowo, juga Erick Thohir

Dengan lman Tak Ada Kesulitan

Menteri PUTL menyatakan, musala As-Salam akan mempunyai program kerja yang tak hanya meliputi kegiatan shalat, tapi juga meliputi program dakwah dan diskusi-diskusi, dalam rangka pembangunan mental beragama di lingkungan karyawan, yang pelaksanaanya diserahkan kepada Badan Koordinasi Dakwah Islam Departemen PUTL.

Menurut Menteri Sutami, bagaimana pun juga, takkan bisa mengembangkan kemampuan dengan akal dengan pikiran saja, apabila tidak dilandasi oleh iman.

“Dengan iman kita akan bisa mengatasi segala macam kesulitan dan persoalan, sebab dengan hidup beriman kita akan bisa dapat petunjuk dari Tuhan,” demikian kata Menteri.

Ditambahkan, iman itupun tak hanya diperlukan untuk hidup didunia sekarang ini tapi juga perlu untuk persiapan hari nanti sesudah kita meninggalkan dunia.

Menteri Sutami selanjutnya menunjukkan nama As-Salam yang dipakai untuk nama musala yang berarti “yang menyelamatkan”. Lagi pula, katanya, musala As-Salam atau yang menyelamatkan ini diresmikan pada tahun 1976, tahun yang seperti dikatakan juga oleh Kepala Negara sebagai tahun yang banyak kesulitan yang menimbulkan keprihatinan dalam keuangan negara, bencana alam dan sebagainya.

“Mudah2an kita betul-betul mendapat keselamatan dalam tahun yang sulit dan prihatin ini,” demikian Menteri Sutami.

Masjid As-Salam

Musala As-Salam dibangun dengan gotong-royong keluarga besar Departemen PUTL dari seluruh Indonesia dengan biaya Rp28 juta, luas bangunan 249 m2. Di puncak atap ada bulan bintang.

Menteri Sutami secara mengemukakan bahwa perencanaan dan konstruksi dilakukan oleh insinyur-insinyur wanita yaitu Ir Sri Hadiarti dan Ir Amelia Munawar. Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 20 Mei 1975 oleh Sekjen Departemen PUTL Ir Ely Sungkono. (*)

Berita Terkait

Kolaborasi PUPR–Hutama Karya dalam Pemulihan Pascabencana Sumatra Barat
Kementerian PU Lanjutkan Penanganan 1.459 Titik Bencana Sumatera, Fokus Pemulihan Infrastruktur Dasar
Nelayan Pidie Jaya Mulai Melaut, Kementerian PU Dorong Geliat Ekonomi Lewat Normalisasi Sungai Krueng Meureudu
Kementerian PU Gerak Cepat Tangani Dampak Bencana di Sumut, Akses Jalan Mulai Pulih
Kemendes Gandeng Bank BRI Perluas Akses dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Hutama Karya Evaluasi Nataru, Trafik Tol Trans Sumatera Tembus 2,4 Juta Kendaraan
3.719 Relawan Kesehatan Dikerahkan, Layani Pengungsi di Ribuan Pos Pengungsian
HUT Ke-75 Snesa Lamongan dan Reuni IKASNESA, Wamen Viva Yoga Ajak Wujudkan Bangsa Unggul

Berita Terkait

Thursday, 8 January 2026 - 16:42 WIB

Kolaborasi PUPR–Hutama Karya dalam Pemulihan Pascabencana Sumatra Barat

Thursday, 8 January 2026 - 16:30 WIB

Kementerian PU Lanjutkan Penanganan 1.459 Titik Bencana Sumatera, Fokus Pemulihan Infrastruktur Dasar

Thursday, 8 January 2026 - 11:28 WIB

Nelayan Pidie Jaya Mulai Melaut, Kementerian PU Dorong Geliat Ekonomi Lewat Normalisasi Sungai Krueng Meureudu

Wednesday, 7 January 2026 - 19:41 WIB

Kementerian PU Gerak Cepat Tangani Dampak Bencana di Sumut, Akses Jalan Mulai Pulih

Wednesday, 7 January 2026 - 00:35 WIB

Kemendes Gandeng Bank BRI Perluas Akses dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

Berita Terbaru

News

Bahlil Beberkan PNBP ESDM 2025 Lampaui Target

Friday, 9 Jan 2026 - 13:24 WIB