DAELPOS.com – Melalui kisah penjual ulekan atau tukang coet bernama Mang Kusnadi, Kang Dedi Mulyadi mengungkap getir hidup masyarakat miskin kota. Terusir dari kontrakan, terjerat utang ke rentenir, usaha bangkrut, dan anak banyak.
Mang Kusnadi berasal dari Kota Bandung. Sebab usaha dagang sosis bakar bangkrut, utang merajalela, dan sudah ‘malang kabut’ tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, Mang Kusnadi akhirnya keliling jualan coet alias ulekan.
Mang Kusnadi mengungkapkan sangat bersyukur bisa bertemu Kang Dedi saat ia jualan coet di malam tahun baru di Purwakarta.
Uang dari Kang Dedi bisa dipakai untuk melunasi utang-utangnya yang sebelumnya tidak bucat-bucat.
Mang Kusnadi mengibaratkan utang-utangnya sebagai bisul yang tidak kunjung pecah. Hal ini diungkapkan langsung Mang Kusnadi, saat Kang Dedi mengunjungi kediamannya di Kota Bandung.
Mendengar kata malang kabut dan bucat utang, Kang Dedi ngakak. Sebab dikatakan Mang Kusnadi dengan polosnya.
Mang Kusnadi bercerita ia tidak mampu bayar kontrakan Rp500 ribu per bulan kemudian terusir hingga akhirnya harus menumpang di rumah orangtua.
Imbas pandemi, usaha dagang sosis bakar bangkrut menyisakan utang. Awalnya Mang Kusnadi berutang ke bank resmi dengan cicilan Rp156 ribu yang dibayar setiap dua minggu sekali.
Mang Kusnadi dan istri gali lubang tutup lubang. Singkat cerita, istri terjerat utang bank emok dengan cicilan Rp125 ribu yang dibayar setiap seminggu sekali.
“Saya mau buta, bisa lebih merajalela (ingin hilang lebih merajalela),” kata Kusnadi polos.
Sejak
banyak utang itu, Mang Kusnadi dan istri tidak bisa hidup tenang.
Apalagi bila datang penagih utang dan tidak ada uang untuk membayar.
Sembunyi kadang jadi pilihan.
Mengetahui hal ini, Kang Dedi yang tidak pernah setengah-setangah dalam membantu, ia kembali memberikan uang untuk melunasi semua utang Mang Kusnadi dan istrinya.
KB
Kini Mang Kusnadi tak lagi malang karena utangnya sudah lunas.
“Hati-hati jangan pinjam ke rentenir lagi, dikutuk tidak ada
apa-apanya oleh kita (hati-hati jangan pinjam ke rentenir lagi),” kata
Kang Dedi.
“Moal pak, capek kasiksa lahir batin,” ujar Mang
Kusnadi yang kemudian curhat sebab terpikir terus kesusahan hidup,
anunya sudah lama tidak bangun, sekalinya bangun tidak tahan lama, hanya
beberapa anclom (celup).
“Kalau bangun paling seanclom (kalau bangun paling seanclom),” kata Mang Kusnadi yang membuat Kang Dedi tertawa.
Selanjutnya Kang Dedi membantu modal agar Mang Kusnadi bisa bangkit usaha lagi. Selain itu, Kang Dedi membawa Mang Kusnadi untuk KB supaya tidak nambah anak. Adapun Mang Kusnadi kini sudah punya tiga anak.
Menurut Kang Dedi, kisah Mang Kusnadi adalah kisah orang sunda, rakyat jelata yang jujur dalam hidupnya, pekerja keras yang mau melakukan bekerja apa saja yang penting halal.
“Kesulitan hidupnya adalah potret kemiskinan yang harus dibantu. Solusinya adalah rumah gratis, pelunasan hutang, modal untuk menghidupkan usaha dan terpenting, harus dipaksa masuk program KB,” ujar Kang Dedi.