daelpos.com – Di tengah riuhnya dinamika politik yang kerap dibumbui narasi “lawan vs kawan”, sebuah momen justru menghadirkan pesan berbeda. Pertemuan antara Rocky Gerung dan Prabowo Subianto menjadi semacam tamparan halus bagi pihak-pihak yang gemar menyederhanakan kritik sebagai bentuk permusuhan.
Rocky, yang selama ini dikenal vokal dan tajam dalam menguliti kebijakan pemerintah, tetap menunjukkan sikap santun saat berhadapan langsung dengan Prabowo. Bahkan sebelum berjabat tangan, gestur hormat yang ia tunjukkan terlihat tulus—bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan etika intelektual yang mulai jarang terlihat di ruang publik.
Di situlah letak perbedaannya. Rocky mengkritik kebijakan, bukan menyerang pribadi. Ucapannya boleh keras, argumennya bisa pedas, tetapi tetap berpijak pada nalar, bukan kebencian. Dan saat bertemu langsung, suasana yang tercipta jauh dari kesan tegang—justru cair, bahkan diwarnai tawa.
Momen ini sekaligus menjadi sindiran bagi sebagian “pendukung garis keras” yang kerap bereaksi berlebihan. Perbedaan pandangan sedikit saja sering langsung dilabeli sebagai permusuhan. Padahal, demokrasi sejatinya hidup dari ruang kritik yang sehat dan terbuka.
Pertemuan Rocky dan Prabowo mengingatkan kembali bahwa menjadi oposisi tidak berarti kehilangan adab. Sebaliknya, menjadi penguasa juga bukan alasan untuk alergi terhadap kritik.
Di titik inilah kualitas demokrasi diuji: apakah kita cukup dewasa untuk berbeda tanpa harus bermusuhan.








