daelpos.com – Indonesia dan Swis memperkuat kemitraan strategis di sektor mineral dan logam. Hal itu ditandai dengan rampungnya penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Enhanced Cooperation in the Minerals and Metals Sector antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Pemerintah Konfederasi Swis.
Di Jakarta, penandatanganan dilakukan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (16/7). Penandatanganan tersebut disaksikan Duta Besar Swis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Olivier Zehnder.
Prosesi itu melengkapi penandatanganan secara sirkuler yang lebih dulu dilakukan Presiden Konfederasi Swis sekaligus Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER), Guy Parmelin, pada 23 Juni 2026 di Basel, Swis.
Rosan menegaskan, MoU tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama kedua negara sekaligus mendukung percepatan investasi hilirisasi yang berkelanjutan.
“Indonesia dikaruniai sumber daya mineral yang melimpah. Namun, ambisi kami bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat daya saing industri nasional melalui hilirisasi,” ujar Rosan.
Menurutnya, Swis merupakan mitra strategis karena memiliki keunggulan dalam teknologi, inovasi, pembiayaan, logistik, keberlanjutan, hingga akses pasar global.
Sementara itu, Duta Besar Swis Olivier Zehnder mengatakan, penandatanganan MoU menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Swis pada 2026.
“Nota kesepahaman ini menghubungkan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, keahlian, dan modal dari Swis di sepanjang rantai nilai. Kami berharap kerja sama ini semakin mempererat kemitraan ekonomi kedua negara dan memberikan manfaat yang berkelanjutan,” kata Zehnder.
MoU tersebut merupakan tindak lanjut dari Expression of Interest yang ditandatangani pada 30 September 2025. Kerja sama mencakup promosi dan fasilitasi investasi, penguatan rantai pasok mineral dan logam berkelanjutan, transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), pengembangan teknologi bersih (cleantech), hingga penyelenggaraan misi bisnis, seminar, pameran, pelatihan, dan business matching.
Kerja sama ini juga mendukung agenda transformasi ekonomi nasional melalui hilirisasi sumber daya alam. Pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengolahan dan manufaktur berteknologi tinggi, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri hijau.
Hubungan ekonomi kedua negara pun terus menguat. Sepanjang 2021 hingga triwulan I 2026, realisasi investasi Swis di Indonesia mencapai sekitar USD 1,33 miliar. Investasi tersebut didominasi sektor industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta industri kimia dan farmasi.
Selain itu, implementasi Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) turut memperkuat iklim investasi dengan memberikan kepastian dan kemudahan bagi pelaku usaha di kedua negara.
Rosan menegaskan, keberhasilan kerja sama ini nantinya tidak hanya diukur dari penandatanganan dokumen, tetapi dari realisasi proyek investasi dan kemitraan yang memberikan manfaat nyata.
“Keberhasilan kerja sama ini tidak akan diukur dari dokumen yang kita tandatangani hari ini, melainkan dari proyek-proyek yang kita wujudkan di masa depan. Kami ingin melihat lebih banyak investasi, kemitraan teknologi, pertukaran keahlian, dan peluang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Indonesia terbuka, Indonesia berkomitmen pada reformasi, dan Indonesia siap menjadi mitra jangka panjang,” tandas Rosan. (*)








