daelpos.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama BUMN Karya terus mempercepat pembersihan lumpur sisa banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Berdasarkan data penanganan per 2 Januari 2026, Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis mencatat progres pembersihan lumpur pada 52 fasilitas umum mencakup fasilitas pendidikan, kesehatan, perkantoran pemerintahan, rumah ibadah, pasar, hingga fasilitas pelayanan publik lainnya telah mencapai 60%.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, percepatan pembersihan fasilitas umum menjadi prioritas agar aktivitas sosial, ekonomi, dan pelayanan publik masyarakat Aceh Tamiang dapat segera pulih.
“Kita semua ingin memastikan masyarakat terdampak bencana tidak berlama-lama berada dalam kondisi sulit. Karena itu, selain pembersihan fasilitas umum, pemerintah juga menyiapkan dukungan hunian sementara dan infrastruktur dasar lainnya sebagai bagian dari pemulihan menyeluruh,” kata Menteri Dody.
Pembersihan material lumpur pascebencana di Aceh Tamiang terus dipercepat untuk memastikan fungsi layanan dasar masyarakat dapat segera pulih. Penanganan difokuskan pada peembersihan lumpur sisa banjir bandang dengan ketebalan bervariasi antara 10 hingga 100 sentimeter, yang menutupi bangunan dan halaman fasilitas umum. Dari total luas area terdampak yang ditangani seluas 372.890 m2, saat ini progresnya telah mencapai 229.757 m2 atau lebih dari 60% dari total area terdampak.
Secara rinci, pembersihan dilakukan pada 52 lokasi yang terdiri atas 19 kantor pemerintahan, 16 fasilitas keagamaan dan pendidikan keagamaan, 8 fasilitas pendidikan formal, 2 fasilitas kesehatan, 1 pasar, 1 fasilitas olahraga, 4 fasilitas umum lainnya, termasuk 1 lokasi hunian sementara (huntara). Sejumlah fasilitas strategis yang telah atau hampir kembali fungsional antara lain Terminal Tipe B Kuala Simpang, Pendopo Bupati, Polres Aceh Tamiang, RSUD Aceh Tamiang, Pasar Kuala Simpang, serta sejumlah masjid dan sekolah.
Untuk mendukung percepatan pekerjaan, Kementerian PU mengerahkan tenaga kerja dalam jumlah besar secara bertahap dengan total mencapai 1.064 orang (per 2 Januari 2026). Jumlah tenaga kerja ini disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan luasan lumpur di masing-masing lokasi, dengan prioritas pada fasilitas pelayanan publik yang berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.
Selain tenaga kerja, Kementerian PU juga mengerahkan berbagai jenis alat berat untuk mempercepat pembersihan lumpur, antara lain excavator PC 150–200, excavator PC 50–75, dump truck, loader, serta water tank. Tercatat puluhan unit alat berat dukungan PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya (WIKA), dan PT Pembangunan Perumahan (PP) telah beroperasi secara bergantian di seluruh lokasi terdampak untuk pengangkutan lumpur dalam volume besar.
Kementerian PU akan terus melakukan monitoring harian terhadap progres pembersihan, serta menyesuaikan kebutuhan tambahan tenaga kerja dan alat berat bila diperlukan. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan pascabencana sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur di Kabupaten Aceh Tamiang. (*)








