daelpos.com – Peristiwa gempa Padang menyisakan kesan mendalam bagi seorang guru asal Padang, Gilang Dwi Nanda. Kejadian tersebut menjadi titik awal baginya untuk menjaga siswa berkebutuhan khusus yang dididiknya melalui seni.
Pengalaman pribadinya saat gempa membuat Gilang berinovasi menciptakan lagu dan gerakan senam mitigasi bencana gempa bumi untuk murid-muridnya di SLB Negeri 1 Padang. “Saya memiliki trauma pribadi pada tahun 2009, dimana saya juga merupakan salah satu yang melihat bagaimana dahsyatnya gempa menghancurkan Kota Padang saat itu. Saya berpikir, murid-murid saya jangan sampai merasakan betapa paniknya saya dan menjadi korban suatu saat apabila tidak tahu informasi tentang menyelamatkan diri,” jelas Gilang.
Bertekad agar tidak mengalami kesulitan yang dialaminya saat gempa belasan tahun silam, Gilang ingin agar anak-anak didiknya memiliki keterampilan mitigasi utama bencana gempa bumi mencakup tindakan sebelum, saat, dan setelah guncangan terjadi.
Berdasarkan pengalamannya, Gilang menilai bahwa edukasi terhadap anak berkebutuhan khusus tidak bisa dilakukan melalui penyampaian informasi yang berulang di ruang kelas semata. Gilang kemudian melakukan pendekatan baru dengan mengubah cara penyampaian informasi dengan cara yang menyenangkan.
Sebagai guru keterampilan vokasional seni, drama, tari, dan musik di SLBN 1 Padang, Gilang kemudian menciptakan lagu mitigasi bencana gempa bumi berjudul “Jika ada Gempa”. “Akhirnya saya ciptakan lagu ini dan mereka mudah mengingatnya. Kalau mereka lupa mereka langsung ingat kembali dengan pertanyaan pemantik,” imbuhnya.
Kota Padang merupakan salah satu wilayah dengan risiko gempa dan tsunami tertinggi di Indonesia karena berhadapan langsung dengan zona megathrust Mentawai-Siberut dan dilalui Sesar Sumatra. Oleh karena itu, simulasi bencana gempa menjadi kegiatan yang kerap kali dilakukan di SLBN 1 Padang.
Urgensi edukasi mitigasi gempa semakin krusial mengingat minimnya pengetahuan anak didik di sekolahnya. “Ketika sebelum saya menciptakan lagu jika ada gempa itu, itu masih sangat terlihat anak-anak begitu bingung mau melakukan apa, mau kemana ketika gempa, mau melakukan apa di dalam kelas ketika gempa terjadi,” jelas Gilang.
Salah satu siswi SLBN 1 Padang Dwi menuturkan bahwa lagu dari Gilang kini membuatnya selalu ingat hal-hal yang harus dilakukan saat gempa. “Menghindari kaca, sembunyi di bawah meja, jangan berlari, jangan berisik, jangan mendorong orang lain,” ungkapnya.
Kepala Sekolah SLB Negeri 1 Padang Sudirja menambahkan bahwa lagu gubahan Gilang sederhana dan instruksinya mudah dipahami, sehingga anak-anak dapat mengikuti baik irama maupun gerak yang telah diciptakan. Inovasi tersebut juga mudah direplikasi di sekolah lainnya.
“Untuk membiasakan anak-anak kita, terutama anak-anak luar biasa yang ada di SLBN 1 Padang ini, bisa mengaplikasikan dirinya nanti pada saat terjadinya gempa, mereka sudah siap dengan prosedur yang telah diberikan,” jelasnya.
Sudirja pun turut memberikan dukungannya bagi setiap guru untuk selalu berinovasi, kreatif, dalam menciptakan semua pembelajaran yang akan diberikan kepada anak-anak, khususnya jika dirancang sesuai dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Meski dilakukan dengan cara sederhana, pembelajaran dari guru adalah bekal berharga bagi siswa untuk mencapai kemandirian dalam hidup mereka hingga dewasa. “Bagi Bapak/Ibu guru yang mengayomi anak berkebutuhan khusus, marilah kita sama-sama semuanya berinovasi untuk memajukan anak kita, sesuai dengan kemampuan dan karakter anak kita masing-masing. Sehingga ke depannya anak kita bisa mandiri, bersatu dengan lingkungan di mana anak itu tinggal berada,” tutup Sudirja.








